Tahukah Anda bahwa
manfaat dari reaksi kimia yang terjadi disekitar kita cukup banyak bagi
kehidupan manusia? Reaksi kimia bisa
terjadi dimanapaun di sekitar kita, bukan hanya di laboratorium. Materi berinteraksi
untuk membentuk produk baru melalui proses yang disebut reaksi kimia atau
perubahan kimiawi. Setiap kali kita memasak atau sedang bersih-bersih, itu juga
merupakan kimia dalam tindakan. Tubuh kita hidup dan tumbuh berkat reaksi
kimia. Ada reaksi ketika kita meminum obat, menyalakan korek api, dan mengambil
napas. Itu hanyalah contoh kecil, karena kita melihat dan mengalami ratusan
ribu atau bahkan lebih reaksi kimia setiap hari.
Salah satu proses
kimia yang sangat berguna dan penting bagi kehidupan manusia adalah reaksi
penyabunan, reaksi ini digunakan oleh banyak industri-industri manufaktur dalam
memproduksi sabun mandi. Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai reaksi
penyabunan atau saponifikasi, tidak ada salahnya jika kita mengetahui dahulu
tentang sabun mandi itu sendiri.
Sabun mandi sangat
akrab dalam kehidupan sehari-hari kita, bagaimana tidak? Sabun mandi kita
perlukan untuk membersihkan badan kita dari kotoran.
Sabun itu sendiri adalah
garam alkali dari asam lemak suku tinggi yang dibuat dengan reaksi kimia antara
basa natrium atau kalium dengan asam lemak dari miyak nabati atau lemak hewani
(Dewan Standarisasi Nasional, 1994). Sabun mandi merupakan sabun natrium yang
umumnya ditambahkan zat pewangi dan digunakan untuk membersihkan , merawat dan
melindungi tubuh manusia serta tidak membahayakan kesehatan.
Sabun mandi yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari terdiri
atas berbagai bentuk seperti berbentuk padat (batang), cair, dan gel. Perbedaan
bentuk ini akibat adanya perbedaan reaksi diantara ketiganya . Sabun hasil
reaksi dengan Sodium Hidroksida (NaOH) biasanya lebih keras dibandingkan dengan
penggunaan Potassium Hidroksida (KOH).
![]() |
||||||
![]() |
||||||
![]() |
||||||
![]() |
||||||
Reaksi Saponifikasi
Sabun dapat dibuat melalui dua proses, yaitu saponifikasi dan
netralisasi. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida
dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak
bebas dengan alkali. Pada proses saponifikasi akan diperoleh produk samping
yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak menghasilkan gliserol (Spitz,
1996).
![]() |
Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan alkali yang menghasilkan sabun dan gliserol. Prinsip dalam proses saponifikasi, yaitu lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Proses saponifikasi terjadi pada suhu 80-100oC. Reaksi kimia pada proses saponifikasi adalah sebagai berikut.
Reaksi kimia proses netralisasi asam lemak adalah sebagai
berikut.
![]() |
Proses Pembuatan Sabun
Pada proses pembuatan
sabun Gliserida atau lemak dalam ketel dipanasi (dididihkan) dengan pipa uap
dan selanjutnya ditambahkan larutan NaOH sehingga terjadi reaksi penyabunan.
Sabun yang terbentuk (Na-asetat) dapat diambil pada lapisan teratas dari
campuran sabun, gliserol dan sisa basa. Agar sabun mengendap dan dapat
dipisahkan dengan cara penyaringan, NaCl ditambahkan ke dalam campuran.
Prinsip Kerja Sabun
Molekul sabun terdiri dari rantai karbon, hidrogen, dan
oksigen yang disusun dalam bagian kepala dan ekor. Bagian kepala yang disebut
sebagai gugus hidrofilik (rantai karboksil) untuk mengikat air. Bagian ekor
sebagai gugus hidrofobik (rantai hidrokarbon) untuk mengikat kotoran (Paul,
2007).
![]() |
Kotoran yang menempel pada kulit umumnya berupa lemak. Debu
akan menempel pada kulit karena adanya lemak tersebut. Kotoran tersebut dapat
menghambat fungsi kulit. Air saja tidak dapat membersihkan kotoran yang
menempel pada kulit, diperlukan adanya suatu bahan yang dapat mengangkat
kotoran yang menempel tersebut. Sabun adalah senyawa yang dibuat sedemikian
rupa sehingga memiliki keistimewaan tertentu, yaitu juka senyawa itu larut
dalam air, akan bersifat surfaktan (surface
active agent) yaitu menurunkan tegangan permukaan air dan sebagai
pembersih. Molekul sabun tersusun dari “ekor” alkil yang non polar (larut dalam
minyak) dan “kepala” ion karboksilat yang polar (larut dalam air). Prinsip
tersebut yang menyebabkan sabun memiliki daya pembersih. Ketiika sabun
digunakan untuk mandi atau mencuci, “ekor” non polar dari sabun akan menempel
pada kotoran dan kepala polarnya menempel pada air. Hal ini mengakibatkan
tegangan permukaan air akan semakin berkurang, sehingga air akan jauh lebih
mudah untuk menarik kotoran .








0 komentar:
Posting Komentar